Pengin nulis yang ringan.
Soalnya beberapa bulan terakhir ini, otak kayak diperas habis. Persis parutan kelapa yang dibuat santan. Urusan kantor, urusan organisasi... hmmmhh...
Mumpung masih ramadhan, topiknya tentang buka aja ya.
Saat menjelang buka, ini saat-saat yang istimewa. Saya teringat pertama kali mulai puasa. Saya mulai full puasa dari subuh hingga beduk maghrib ketika kelas 1 SD. Si kecil Yeni yang pendiam (tapi pintar berargumen alias 'ngeyel'), kutu buku (benar-benar kutu, karena Yeni memang saat itu kecil banget, paling kecil se-kelas), harus bersaing dengan saudara terdekatnya, si kakak, Mbak Tini yang lincah, ceria dan centil. Jarak usia kami 3 tahun. Jadi, ketika saya kelas 1 SD, si Mbak ini kelas 4. Bersaing? Boleh!
Ibu sebenarnya tidak tega melihat si kecil Yeni berpuasa. "Nggak papa, nanti beduk dhuhur kau berbuka saja!" ujar beliau sambil mengelus rambutku. Tapi, ibu sebenarnya pun sudah tahu, jika puteri kecilnya ini sudah berkehendak, selalu saja bisa nekad.
Akhirnya, si kecil Yeni pun berpuasa. Bukannya mendukung, si Mbak justru sering mengedownkan mentalku. Misalnya, pernah ketika malam, kami mendatangi masjid untuk shalat tarawih, dengan wajah serius Mbak Tini menatapku. "Kamu anak kecil, ini shalatnya lama sekali. Nanti kamu capek." Aku pun ketakutan dan akhirnya batal shalat tarawih. Lama-lama saya jadi tahu, si Mbak begitu karena takut ketahuan adeknya, kalau shalat tarawih doski senangnya becanda dengan teman-temannya. Malu kalau ndak bisa memberi teladan yang baik. Hihi... eh, ini hanya sekeping kecil sisi yang agak miringlah... dan hanya terjadi di masa kecil. Si Mbak ini, luar biasa baiknya. I love you Mbak.
O, ya... selain si Mbak, si kecil Yeni juga dekat dengan saudara terdekat lainnya yang lebih kecil, namanya Anang. Jarak umur kami 2 tahun. Nah, Anang ini, sepertinya juga tidak rela jika saya berpuasa. Cara dia mendemonstrasikan cukup unik, yakni makan persis di depanku saat siang. Makan, minum, dan menawariku. Jahat! Untung ibu cukup pengertian. Si Anang ini akan segera diusir dan dijewer jika ketahuan menggodaku. Rasain, Lo! kek... kek.
Nah, saat kecil, banyak kepolosan selaku anak kecil yang saya lalui. Ibu, mungkin merasa heran, kenapa ada anak usia 6 tahun, yang kecil mungil (karena ada anak 6 tahun yang bongsor lho), seperti saya ini, kuat puasa hingga maghrib, 30 hari pula! Ibu tidak tahu, bahwa ketika siang bolong, saya dan teman-teman, nyebur di sungai yang tak jauh dari rumah. Mandi sepuasnya... dan... hihi, minum air pula. Aku tak tahu, atau tak menyadari, karena keminumnya kadang juga nggak sengaja, bahwa itu membatalkan puasa. (pengakuan dosa nih, ceritanya). Tapi, karena sudah ma'rifah, besok kalau anak-anak saya berenang pas puasa, pasti akan kucecar habis... hehe. Tapi, semoga itu hanya terjadi pada masa kecil saya, karena keluarga kami memang termasuk awam dalam soal agama.
Sering pula, untuk menghabiskan waktu, saya memancing di sungai bersama teman-teman. Untuk urusan mancing, saya termasuk cukup sabar dan lumayan pintar. Paling tidak, seekor dua ekor ikan gabus, selalu berhasil kupancing. Beda dengan Mbak Tini yang selalu saja ingin mencoba tempat baru, berpindah-pindah. Baru semenit di tempat ini, sudah merasa bosan dan pergi ke tempat lain sambil ngomel2, bahwa tempat ini nggak ada ikannya dst. Nah, karena keasyikan memancing, terkadang, adzan maghrib berbunyi, kami baru tersadar.
"Cepat buka!" teriak teman-teman. Kata ustadz di masjid, cepat berbuka itu lebih baik. Karena kami memang tak membawa bekal, dengan santainya kami memetik kacang panjang yang tumbuh di sepanjang tepi sungai. Ya, ampuuun... ternyata bukaku saat itu, nyuri tanaman orang! Semoga diikhlaskan ya, sama pemiliknya.
Masakan ibu, selalu menjadi menu spesial, sesederhana apapun. Maklumlah, saya berasal dari keluarga guru SD yang tak berlimpah dana. Maka, sekadar tumis kangkung, tempe goreng, lalap daun singkong dan pepaya (ini tumbuh di halaman rumah, jadi nggak beli), sudah sangat istimewa. Ditambah kolak pisang... yummmy! Eh, sampai sekarang, saya masih menganggap bahwa masakan terlezat di dunia adalah masakan Ibu.
Oya, sejak dulu, saya juga suka banget sama sayur kangkung. Saat kuliah, saya menemukan dua hal yang menarik tentang kangkung. Pertama, seorang teman yang maniak (lebih maniak dariku) kepada kangkung. Saking sukanya, dan untuk membedakan namanya dengan yang lain, karena nama Ika sangat banyak, ia panggil dirinya Ikung, singkatan dari Ika yang suka kangkung. Sedangkan hal kedua, ini penelitian salah seorang kakak kelas. Hati-hati makan kangkung, khususnya yang dibeli di kota-kota besar. Karena kangkung ini sangat menyerap logam berat berbahaya, sedangkan kangkung di kota besar seringkali tumbuh di sungai yang tercemar.
Dunia 'iftor' tak terlalu berubah saat mahasiswa. Karena, di wisma tempat kostku, sebuah kontrakan khusus akhwat, sebagai pembina (jieeeh...) saya memang menganjurkan untuk masak sendiri. Agak berubah ketika saya memasuki semester akhir. Saat itu, saya nyambi kerja di Era Intermedia, di kota Solo, sekitar 2 jam dari Semarang. Karena masih kuliah, saya memilih jadi penglaju. 3 kali dalam satu minggu, bolak-balik Solo-Semarang. Saat berpuasa, saya lebih banyak berbuka di bus. Alhamdulillah, banyak celah bersedekah, meski hanya dengan sebutir permen.
Setelah berkeluarga, ada perubahan yang cukup kentara. Kebersamaan saat berbuka agak berkurang. Bukan apa-apa. Suami saya praktek setiap senin-jumat dari jam 5 sampai jam 8 malam. Sedangkan sabtu dan ahad, adalah waktu yang paling sering dipakai untuk acara-acara buka bersama. Maklum, kami sama-sama giat di banyak organisasi. Saya di FLP, SALIMAH, PPAP Seroja, sedangkan suami di BSMI dan sebuah partai Islam.
Maka, ketika pada sebuah kesempatan kami ternyata bisa bertemu, saya menawarkan diri untuk masak. Sayur sudah siap, lauk sudah siap, kolak pisang (hmm... inget masa kecil), cemilan dan sebagainya. Sempurna! Hihi, diam-diam saya ada bakat koki. Lantas beduk maghrib. Dan, ketika kami sudah siap makan, saya buka magic com... dan Ya Rabbi... ternyata belum menanak nasih. Alhamdulillah, suami nggak marah. Cuma, ya itu deh... nyindir-nyindir terus. Maap... Ahmad ya habibiy... (eh, nama suami saya memang Ahmad :-D)